Senin, September 07, 2009

Memoar Stasioen Toegoe III [Habis]

Mas…, saya ikutan ngobrol ya nanti?, tanya sang bintang pada kami. Boleh-boleh silahkan saja kang, kenapa tidak?, jawab teman ku ringan. Sembari kami saling bertatap heran, penuh tanya di raut wajah kami masing-masing. Belum juga tuntas keheranan kami pada sikap dan tingkah lakunya, mendadak dia langsung main duduk kemudian pesan es teh manis dan beberapa potong mendoan. Meski dengan sedikit terheran-heran bapak penjual punya mencoba untuk melayaninya. Dan kala hidangan tersaji, hanya dalam sekejap es teh tadi tuntas habis hanya menyisakan gelas kosong juga piring kosong bekas gorengan mendoan. “Mas…aku lapeer”, kata sang bintang sambil mengelus-elus perut yang sedikit buncit dengan puser bodongnya. “Silahkan pesan makanan….kang, jangan malu untuk menambah minumnya sekalian”, jawab ku sambil melanjutkan makan yang sempat terganggu tadi. “Pak Le'..., djaloek sego koyor 3 bungkus, es teh 1 lagi…juga tahu bacem`e limo“, teriak sang bintang. “Uhk…..”, spontan aku yang sedang mencoba menyuapkan nasi ke mulut langsung tersedak, lebih parah lagi temanku hampir menyemburkan minuman dimulutnya. Ditambah dengan keterheranan dari wajah-wajah pengunjung lainnya, yang sesaat kemudian tersenyum pada kami…seakan berkata [kami maklum adanya]. “Duaaaan…tjoeeeeek, wueeeedaan tenan cah iki”, serapah temanku sembari ketawa ngikik pelan-pelan. “Lah piye toh mas, iki aku ngeleeeh tenan mas”, jawab sang bintang sembari tertunduk. “Yoo weis cah, lanjutkan saja….ga po poo kok”, jawab temanku iba melihat sikap dari sang bintang tersebut. Saat kami saling bertatap dengan tersenyum kias, lalu saling mengangguk sepakat untuk secepatnya menyelesaikan makan dan minum…kemudian mengamati sang bintang menikmati makan dan minumnya. Dan pertunjukan pun segera dimulai oleh sang bintang. Bungkus pertama dibuka, dimulut sudah tersumpal oleh tahu bacem…kami tersenyum melihat tontonan tersebut, bahkan ada pengunjung lain yang ikut terkikikikik…saat mengamati tingkah dari sang bintang, Dalam semangat yang tinggi bungkus demi bungkus nasi dan juga tahu habis dilahap dalam sekejap. Mendadak, “Pak Le`….djaloek sego babat 3 bungkus, es teh 1 lagi…juga tempe goring`e limo“, teriak sang bintang. Serentak suara berisik langsung muncul mewarnai suasana makan malam ini, beberapa pengunjung tertawa kalah mendengar teriakan sang bintang tersebut sembari tak lupa untuk menggeleng-gelengkan kepala mereka kembali mungkin karena ingin secepatnya mengusir ketawa yang masih berada di organ mulut mereka. Lalu tetap dengan lahap sang bintang menikmati pesanannya, dengan sesekali meneguk es teh tersebut, lalu “Pak Le`….djaloek es teh 1 lagi…juga tahu bacem`e limo“, kembali teriakan sang bintang membahana memaksa pengunjung warung lesehan kembali gaduh. “Gilaaaa, bener-bener buto ijo ini nafsu makannya menakutkan sekali”, gerutu kami serentak. Sang bintang hanya tersenyum saja. Tanpa kami sadari dari tadi, ternyata rekan-rekan dari grup bandnya tersebut sudah menghilang dari tadi. “Loh…kang, pada kemana tadi rekan-rekan bandnya?” Tanya ku pada sang bintang. “Oh, mereka pada melanjutkan ngamennya mas, sudah biasa kok setiap jam setengah 12 aku istirahat dulu mas” jawab sang bintang padaku. Tanpa disadari oleh sang bintang, gara-gara makan terlalu semangat dengan ditemani cabe rawit. Keringat bercucuran deras hingga membuat eyeshadow hitam luntur mengaliri seputar wajahnya, juga lipstick biru tuanya menodai lengan dalam baju kanan dan kiri sang bintang. Perlahan kami tidak sanggup lagi untuk menahan ketawa yang sudah muncul di ujung lidah, kami saling cekikikan sembari memandang satu sama lain. “Napa mas, apa aku ada yang salah?”, tanya sang bintang penuh keheranan. Belum kami sempat bicara, mendadak salah satu rekan band dari sang bintang berlari menghampirinya. “ Mas John, tolongin si maya mas!“ kata sang teman tersebut. “Maya, di pukulin oleh pacarnya mas”, lanjut teman tersebut. Mendadak entah dari mana, seorang waria cantik menubruk keras sang bintang, sambil memeluk erat. ”Mas John, tolongin Maya mas John” kata sang waria cantik pada sang bintang sambil menangis sesunggukan. “Maya sayaaang, duduk yang tenang dulu yaaa…minum duluu, baru bicara”, kata sang bintang dengan gaya dan intonasi yang sama. Tanpa tanya lagi, sang bintang main samber saja teh hangat milikku, lalu disodorkan pada sang waria tersebut. Sempat maksud hati menegur sang bintang, namun teman mencegah diriku. Tersentak juga saat menatap lebam membiru di wajah sang waria tersebut. Tak berselang lama, mendadak berhenti sebuah mobil accord hitam mulus di dekat kami. Turunlah seorang lelaki bertubuh tegap perut membuncit, menghampiri sang waria. “Mayaaa, ikut aku sekarang juga!“, kata sang lelaki sambil menarik kasar lengan sang waria. “Tidaaak mas Djoko, Maya tidak mau ikut mas lagi, kita putus!“ kata sang waria sambil meraung nangis. “Kamu mau ikut, atau aku tempeleng kamu lagi ? ” ancam sang lelaki tersebut. “Ampuuun mas Djoko”, kata sang waria sambil menutupi wajahnya. Mendadak sang bintang berdiri dengan mata menatap nanar pada sang lelaki tersebut. “Saudara telah menganiaya seorang wanita, saudara bisa dikenai pasal KUHP tentang tindak kekerasan pada sesama”, kata sang bintang dengan lantang, membuat kamipun terhenyak. “Sekarang juga kita ke RS untuk mengambil visum bagi Maya”, kata sang bintang mengajak kami. “Ya boleh, tapi nanti dulu dong kang, ini saya lunasin dulu semua yang sudah kita makan ini, emangnya suguhan gratis?”, kata temanku. Tanpa bertanya lagi berapa total semua yang kami makan, temanku meninggalkan seratus ribu pada Lek `man. Lalu kamipun segera menghantarkan sang bintang berserta sang waria cantik ke sebuah RS. Setelah sesaat keluarlah sang bintang sendiri sambil membawa sebuah amplop. “ Mas, tolong anterkan aku ke kantor polisi “ pinta sang bintang padaku. “Boleh kang, marii” kataku. Setelah tiba di Polsek setempat sang bintang menjelaskan semua duduk perkaranya. Sembari menerima amplop yang diberikan pada sang bintang. “Selama ini aku kerja di LBH, mas”, kata sang bintang menjelaskan keheranan kami padanya. “Aku juga merangkap sebagai assiten dosen disebuah PT-fak hukum pidana”, kata sang bintang. “Oooh.....,", mulut kami menganga bebarengan. "Ternyata sang lelaki cantik ini memiliki hati yang mulia sekali”, gumamku dalam hati. Aah…tak terasa jarum jam telah menunjukan pukul 2.45 subuh, kami segera pamit pada mas John. Karena kami masih ada keperluan di kota Solo, dan kami berencana berangkat pukul 3 subuh dari Yogya. “Kang, kami pamit dulu ya, buru-buru mau ke Solo nih”, kata ku pada mas John. “Oh, ya terima kasih banyak atas bantuannya tadi, jika ada kesulitan dengan hukum, silahkan hubungin aku yaaaa”, kata mas John pada kami. “Ya, Kang pasti ituuuu”, kata temanku Lalu kami pun bersalaman sambil mengucap salam “Walaikas salaaaam kang”. TAMAT. Stanis and Kika.

Minggu, September 06, 2009

Memoar at Stasioen Toegoe -II-

Karena percaya diri yang tinggi, atau memang ingin tampil beda lelaki ber-lipenstick biru tua pemetik ‘SITER’ [sejenis alat musik kecapi tradisional jawa], menembangkan ‘Sinom’ [langgam jawa berkisah asmara] sambil duduk bersimpuh. Dengan celana jeans belel yang sedikit diplorotkan [mungkin agar kelihatan tonjolan pantatnya], beraksilah laksana sang bintang laut kidoel. Benar-benar sangat menghibur pengunjung yang saat itu (25 Juli XX) juga sangat padat. Kemudian setelah ‘concert’ tersebut usai, tanpa dikomando mendadak seluruh musician menyebar serentak ke posisi masing-masing sembari menghunuskan topi laken kumal yang dilipat seperti sejenis senjata tajam. "Luaar binasaaa ini kelompok penghibur" Gumam ku. Lalu sambil senyum [di bikin] tulus mereka menyodorkan topi laken yang dibalik, mengharapkan [setengah memelas] keikhlasan dari pengunjung yang terhibur kala itu. “Duaaaan…tjoeeeeek” Teriak temanku tiba-tiba dan hampir membuat gelas air minumku pecah. “Loooh, mas yang doeloe mau nolong saya itu khan?” Tanya sang bintang pada temanku dengan muka setengah kaget [meski kelihatan pura-pura]. Dan akhirnya kami serempak tertawa bersama mengenang peristiwa waktu itu meski ada miris peristiwa itu. “Walaaaah, maaf kang….siapa nama panjenengan?” Tanya balik temanku pada sang bintang dengan masih tertawa. “My Name is Khoelitan Ketjil” Jawab sang bintang sambil berdiri tegak dengan suara yang sangat lantang tetap dengan kepedean yang sama seperti saat kami tolong dulu. Sebentar kemudian terjadi percakapan tentang kejadian gempa Bantul waktu itu dan bagaimana setelahnya. Tak lupa sang bintang menceritakan bagaimana kegiatannya setelah peristiwa itu sampai dengan kegiatannya menjadi Artis di Meja Perjamuan Tak Pernah Mati terpanjang di Kawasan Stasiun Toegoe ini. “Kang, kang maaf kami ga punya uang ketjil nih” Potongku pada sang bintang sembari mencoba ikut ngobrol. “Oh, mau pecahan berapa puluh ribu mas?” Tanya sang bintang pada kami. Lalu sang bintang mengeluarkan setumpuk pecahan seribu rupiah dari balik bajunya. Dengan cepat dia langsung duduk ikut menggerombol bersama kami di warung lesehan stasiun tugu ini. Kemudian dibeberkannya lembaran uang kertas ribuan sedikit basah tercampur keringat tangan dan gemerincing suara koin lima ratusan pun tak mau ikut kalah memajangkan diri di hadapan kami. “Berapa mas butuhnya” Tanya sang bintang pada kami. “Seratus ribu kang” Kata temanku. “Oooh……[hening sejenak]…….ADA MAS!” Jawab sang bintang selalu dengan setengah teriak semangat. “Busyeeet ini orang apa orang, bicara yang wajar kan bisa kenapa sih harus teriak-teriak” Kataku berbisik pada teman. Lalu mulailah sang bintang berhitung dengan tenang "SIJI LORO TELU PAPAT LIMO ENEM PITU…lalu ditumpuk setiap berjumlah 20 lembar. Genap 5 tumpukan lalu sang bintang mengeluarkan benda berbentuk Sirip Hiu dari balik pingangnya. Kemudian dipencetnya tombol-tombol disitu dengan mimik serius muka tirus, begitu merasa selesai diletakkannya kembali benda itu dan tangannya kembali menuju lembaran seribuan yang sudah dihitungnya tersebut. Setelah yakin menghitung ulang tumpukan dan lembaran tersebut [kalau tidak salah 6 kali], kemudian sang bintang menyodorkan uang tersebut padaku. "Terima kasih..loh…kang kok kurang tujuh belas ribu lima ratus rupiah” Tanyaku sembari menyodorkan kembali ribuan ditanganku. “Hehehe...itu setelah saya potong biaya admin sebesar 10% plus discount tarif manggung tadi, jadinya total tujuh belas ribu lima ratus rupiah” Jawab sang bintang enteng. “Ooooooooh “ serentak kami berdua mengangguk mengiyakan saja dengan senyum yang kecut tentunya. [Bersambung] Stanis and Kika.

Senin, Juni 22, 2009

"Memoar at Stasiun Toegoe"

Pada sebuah malam, pasca gempa di Wilajah Propensi Bhantoel, Kota Pathoke, Kecamatan Gunung Khidoel. Saat sedang membersihkan puing-puing sisa penyerangan gempa beberapa hari yang lalu, mendadak ada pangilan darurat dari rekanan meminta bantuan ekstra besar di lokasi kota Semhine. “Mak ya, mak ya…segera kontak kemari……dibutuhkan tenaga–tenaga ekstra”. Lalu saya pun menjawab panggilan tersebut “Ya, diterima…tenaga siap satu gerobak” Melajulah saya berserta teman sesama ahli bangunan ‘teknologi sipil’ yang sangat ektrim produktifitas [namanya saja kuli batu]. Sesampainya disana, ternyata ditemukan salah satu korban yang terkurung oleh reruntuhan bangunan, hanya ada satu celah dan sepertinya cukup utk dilewati seseorang yang berpostur kecil. “Broer, ente bisa coba masuk melalui celah itu ?” Tanya saya pada teman satu tiem. “Oh, bisa man !” jawab teman saya semangat. Segulung tali tambang untuk layar perahu pun. kami julurkan ke bawah dan dengan sigapnya pula teman saya meluncur turun ke bawah lokasi tersebut. Ternyata ada seorang lelaki dewasa yang terjebak dalam reruntuhan tersebut. Disampingnya ada sebakul nasi lengkap dengan lauk pauknya. “Kawan, anda tidak apa-apa ?” Tanya teman saya pada lelaki tersebut “Ga apa apa kok mas, aku sembunyi dibawah meja saat dateng serangan gempa waktu itu” Tawab lelaki itu pada teman saya. “lalu dari mana nasi sebakul dan lauk pauk itu asalnya ?” Tanya teman saya lagi. “Oh, ini mas….nasi dan lauk pauknya, aku dapatkan dari sana” Jawab sang lelaki. Teman saya menengok. “Haaaaaah…duan tjuuuuk !” Teriak teman saya dengan suara sampai terdengar keluar. Saya yang di atas mau tidak mau penasaran dan berteriak keras untuk bertanya "Kenapa Bro?", "Ntar saja ceritanya setelah di atas", Jawab teman saya yang di bawah tak kalah keras. Selang beberapa saat, keluarlah teman saya beserta lelaki dewasa yang berdandan sensual. Ternyata di balik tripleks tersebut terdapat sebuah dapur dengan ukuran luas mirip dapur umum. Sungguh sebuah persiapan yang sangat hebat, begitu terjadi serangan gempa lelaki ini langsung sigap mengamankan perbekalan makan yang mungkin disiapkannya untuk seminggu ke depan. Dan sungguh seorang lelaki yang sangat memanjakan diri untuk urusan makanan, terbukti dengan mendirikan ruang dapur khusus di balik kamarnya. Hingga kini saya masih ingat akan sosok seorang lelaki dengan rambut panjangnya itu. Begitu pula dengan teman saya yang menamakannya lelaki cantik. Bukan tanpa sebab teman saya menyebutnya begitu, karena saat itu selain berkutat di dapur, lelaki ini juga suka akan olesan lipstick biru gelap dibibirnya itu. “Gaya gothic dan sensual” kata lelaki cantik kala itu. Sungguh lelaki yang sensual, terbukti meski terkena gempa pun keperluan pribadinya masih banyak yang utuh. Tidak hanya makanan, wewangian juga masih terlihat utuh. Kini sejak beberapa tahun kemudian, kami berdua bernostalgila di resto bintang tujuh depan ‘stasiun tugu’ dengan master ‘sego meong’ monsinyuer ‘le k mante’ dari sebuah kota di Paris [parangtritis]. Disaat kami sedang asyiik menikmati suguhan nasi putih dengan irisan tuna bakarnya, sembari menyeruput teh kental ala ‘inep’ mendadak kami dikagetkan akan kehadiran sesosok lelaki berambut panjang dengan rombongan orchestra ala malboro light [bergaya koboi malioboro]. Dandanannya lebih macho dengan ikat pinggang kulit besar dan tonjolan HP ‘sirip hiu’, plus lipstick biru tuanya. [Bersambung] Stanis and Kika.

Sabtu, Februari 07, 2009

"Serat Jongko Joyoboyo"

JAMAN EDAN (Serat Jongko Joyoboyo) Pancen amenangi jaman edan, sing ora edan ora kaduman. Sing waras padha nggragas, sing tani padha ditaleni. Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada. Ratu ora netepi janji, musna prabawane lan kuwandane. Akeh omah ing ndhuwur kuda. Wong mangan wong, kayu gilingan wesi padha doyan rinasa enak kaya roti bolu. Yen bakal nemoni jaman Akeh janji ora ditetepi, wong nrajang sumpahe dhewe. Manungsa padha seneng tumindak ngalah tan nindakake ukum Allah. Bareng jahat diangkat-angkat, bareng suci dibenci. Akeh manungsa ngutamakake reyal, lali sanak lali kadang. Akeh bapa lali anak, anak nladhung biyunge. Sedulur padha cidra, kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh, manungsa lali asale. Rukun ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat jahil. Makarya sing apik manungsa padha isin. Luwih utama ngapusi. Kelakuan padha ganjil-ganjil. Wegah makarya kapengin urip, yen bengi padha ora bisa turu. Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan. Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara. Sing edan bisa dandan. Sing mbangkang bisa nggalang omah gedhong magrong-magrong. Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil. Sing ora bisa maling padha digething. Sing pinter duraka padha dadi kanca. Wong bener thenger-thenger, wong salah bungah-bungah. Akeh bandha muspra ora karuwan larine. Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe. Bumi saya suwe saya mungkret. Bumi sekilan dipajegi. Wong wadon nganggo panganggo lanang. Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu, ngumbar angkara murka, nggedhekake duraka. Wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat. Wong agung kesinggung, wong ala pinuja-puja. Wong wadon ilang kawanitane, wong lanang ilang kaprawirane. Akeh jago tanpa bojo. Wanita padha ora setya, laku sedheng bubrah jare gagah. Akeh biyung adol anak, akeh wanita adol awak. Bojo ijol-ijolan jare jempolan. Wong wadon nunggang jaran, wong lanang numpang slendhang pelangi. Randha loro, prawan saaga lima. Akeh wong adol ngelmu. Akeh wong ngaku-aku, njaba putih njerone dhadhu. Ngakune suci, sucine palsu. Akeh bujuk. Wektu iku dhandhang diunekake kuntul. Wong salah dianggep bener, pengkhianat nikmat, durjana saya sampurna. Wong lugu keblenggu, wong mulya dikunjara, sing curang garang, sing jujur kojur. Wong dagang keplanggrang, wong judhi ndadi. Akeh barang kharam, akeh anak-anak kharam. Prawan cilik padha nyidham. Wanita nglanggar priya. Isih bayi padha mbayi. Sing priya padha ngasorake drajate dhewe. Wong golek pangan kaya gabah den interi. Sing klebat kliwat, sing kasep keplesed. Sing gedhe rame tanpa gawe, sing cilik kecelik. Sing anggak kalenggak. Sing wedi padha mati, nanging sing ngawur padha makmur, sing ngati-ati sambate kepati-pati. Cina olang-aling kepenthung dibandhem blendhung, melu Jawa sing padha eling. Sing ora eling padha milang-miling, mloya-mlayu kaya maling, tudang-tuding. Mangro tingal padha digething. Eling, ayo mulih padha manjing. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman-eman ora kaduman, sing kaduman ora aman. Selot-selote besuk ngancik tutupe taun, dewa mbrastha malaning rat, bakal ana dewa angejawantah, apangawak manungsa. Apasuryan padha Bathara Kresna. Awewatak Baladewa. Agegaman trisula wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar. Utang nyawa nyaur nyawa, utang wirang nyaur wirang. Akeh wong cinokot lemud mati. Akeh swara aneh tanpa rupa. Bala prewangan, makhluk alus padha baris, padha rebut bebener garis. Tan kasat mata tanpa rupa, sing mandhegani putra Bathara Indra, agegaman trisula wedha. Momongane padha dadi nayakaning prang, perange tanpa bala, sekti mandraguna tanpa aji-aji. Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk, tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi. Parak esuk banter, ilange katut Bthara Surya, jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur. Prihatine kawula kelantur-lantur. Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa lagi tumeka ing ngarcapada, ambiyantu wong Jawa. Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan. Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca, arupa gupon dara tundha tiga. Kaya manungsa asring angleledha, apeparab Pangeraning Prang, tan pakra anggone anyenyandhang, nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang. Sing padha nyembah reca ndhaplang, cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang. Putra kinasih swarga Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho. Ngerehake sakabehing para jim, setan, kumara, prewangan. Para lelembut kabawah prentah saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa. Padha asenjata trisula wedha, kadherekake Sabdopalon Nayagenggong. Pendhak Suro nguntapake kumara, kumara kang wus katam nebus dosanira, kaadhepake ngarsane kang Kuwasa. Isih timur kaceluk wong tuwa, pangiride Gathutkaca sayuta. Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati. Ora tuwa ora enom, semono uga bayu wong ora ndayani. Nyuwun apa bae mesthi sembada, garise sabda ora gantalan dina. Begja-begjane sing yakin lan setya sabdanira. Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa, nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa. Bisa nyumurupi laire embahira, buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina. Ora bisa diapusi amarga bisa maca ati. Wasis wegig waskitha ngreti sadurunge winarah, bisa priksa embah-embahira, ngawuningani jaman tanah Jawa. Ngreti garise siji-sijining umat, tan kalepyan sumuruping gegaman. Mula den udia satriya iki, wus tan bapa tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa. Mula ngendelake trisula wedha, landhepe trisula pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran. Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku. Senenge anyenyoba, aja kaina-ina. Begja-begjane sing dipundhut, ateges jantrane kaemong sira sabrayat. Ingarsa begawan wong dudu pandhita. Sinebut pandhita dudu dewa. Sinebut dewa kaya manungsa, kinen kaanggep manungsa sing seje daya. Tan ana pitakonan binalekake, tan ana jantra binalekake. Kabeh kajarwakake nganti jlentreh, gawang-gawang terang ndrandang. Aja gumun aja ngungun, yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun, tur isih kuwasa nundhung setan. Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh. Ya siji iki kang bisa njarwakake utawa paring pituduh jangka kalaningsun. Tan kena den apusi amarga bisa manjing jroning ati. Ana manungsa kaiden katemu, uga ora ana jaman sing durung kalamangsane. Aja serik aja gela iku dudu waktunira, ngangsua sumur ratu tanpa makutha. Mula sing amenangi gek enggala den luru, aja nganti jaman kandhas. Madhepa den amarikelu. Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada, ing jaman Kalabendu nyawa. Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa, dewa apangawak manungsa. Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara. Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha. Iku paringe dewa. Ngluruge tanpa wadyabala. Yen menang datan ngasorake liyan. Para kawula padha suka-suka amarga adiling Pangeran wus teka. Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha. Para pandhita ya padha ngreja, yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.

Kamis, Januari 22, 2009

SUMILIRING BAYU

Geguritan kolaborasi Petakilan Stan's dan Pecicilan Ponco Anggoningsun ndeleng tawang Ngarepake kalbu tansah padhang Ananging kanyata beda kang daksandang Angslup sajroning jiwa samudra Badar dadi cahyaning kamulyan Kanggoningsun kadyo cebol nggayuh lintang Nyadong pisungsung agung kang brongot Pangrasa tetep ngumbara Kang kesinungan hawa angkara Ngreidu laku jantra kalbu seto Sumiliring bayu, nggugah sejatining urip Teka lungo yo amung, nyawiji maring gusti Kang njalari sepi ing pamrih Anggone nggumbara ngrasuk urip sejati kang hakiki "Pecicilan Ponco & Petakilan Stan`s" Dalam Pertengahan January 2009

BANTAR ANGIN

Geguritan & Puisi hasil kolaborasi 'Petakilan' Stanis dan 'Pecicilan' Ponco Kita sering memandang langit mengharap cerah membentang rasa tapi ternyata guratan mega yang tertata indah tidak sama indahnya disetiap sudut pandang manusia Turunlah kedalam larutan jiwa semebyak harapan sekecil apapun harapan itu bagi orang pinggiran sepertiku bagaikan mimpi yang tak berkesudahan... tuk jadikan mimpi jadi kenyataan tinggalah menunggu Kidung pujian penyemangat hari hari yang pengab, susuri lorong lorong langit agar langkahku tetap tegar namun masih tercemar oleh nafsu Saat kududuk melepas lelah semilir angin membangunkan sadar ternyata hidup ini hanyalah untuk Nya kumelangkah kini dengan ringan kuberserah diri sudah pada Nya Ponco & Stanis January 2009

Rabu, September 03, 2008

`SyAir dari sahabat` 2

Syair ini dibuat oleh sahabat `Ponco` pada tahun 2008.
Dibuat khusus untuk salah satu sahabatnya.

`sYair dari sahabat` 1

Syair ini dibuat oleh sahabat `Favo` pada tahun 2008, sedangkan gambar background lokasi pantai Lombok, tahun 2007 akhir.

Selasa, Juli 29, 2008

Arti Syair

Sebenarnya....semua masalah, semua perkara, berasal dari diri kita sendiri. Namun kadangkala, kita juga mengalami gesekan - gesekan dari luar diri kita. Untuk menjadi lebih arif,dan lebih tenang. Memang kita harus menjalani itu semua serta berani menghadapi semuanya, bahkan memohon maaf kalau perlu.` walau kita tidak bersalah` itu semua nantinya akan membuat ketenangan hati dan jiwa kita. Yang kelak akan mengendalikan diri kita dengan Bijak dan Sabar. Jadi sebenarnya yang benar dan yang salah tidak ada bedanya...!!! Hanya peraturan dan adat peradaban yang membuat aturan tersebut. Berhubung kita tinggal dalam lingkup tersebut, maka kita harus tunduk pada nilai-nilai tersebut. Jika kita ingin selaras dan serasi memang kita harus menjaga keseimbangan tersebut...keseimbangan jasmani maupun keseimbangan rohani.....salah satunya dengan bermain - main dengan syair sambil menata jiwa...

Senin, Juli 28, 2008

Ini adalah karya dari Koh Hwat - Yogyakarta.
SELASIH (selalu asih)
Saat doa diiringi dengan ke tulusan hangatnya kasih.
Disana menggumpal kemukzijatan nan berlebih.
Serta akan dapat diterima oleh sang pengasih.
Nan senanti asa dalam kalbu maha asih.
Serta tiada berkesudahan enggan ada selisih.
Bahkan masih seharum bunga sela sih.
Berlanjut merajut kete ntraman tiada tersisih.
Pun menebar kedamaian seta ra khusuk bertasbih.
Di jala pada pertengahan jalan July 2008

Rabu, Juli 23, 2008

Keranjang satu

Ini merupakan pemberian dari sahabat baru saya dari "Pesisiran Pantai Selatan". Beliau juga seorang budayawan yang sangat peduli pada kebudayaan jawa khususnya. sehingga sering kali menulis syair-syairnya dalam bahasa jawa. Ini merupakan salah satu syairnya. Semoga bisa menjadi bahan renungan untuk menata diri kita agar lebih baik dari kemarin hari. Janganlah mengharapkan yang terbaik bagi diri kita, sebab yang terbaik bagi kita telah diberikan olehNya pada saat kita lahir, tumbuh dewasa, lalu tua yang kemudian meninggalkan tempat ini.....
RANGGAWARSITA
(rame nggawa warna wur sita)
Pujangga jawa saka laladan Surakarta.
Ciptane Agung ming durung sumebar le ketara.
Ora entek enteke ngudhar rumangsa.
Isih su mringah kablebet tresna dumugi asmara.
Tekane ka beh kabuka lan kabalaka.
Piye sajanjane maknane uriping manungsa.
Uger tumi ndake sumeleh ditampa de ning sasama.
Mulane para kawula mudha sedaya.
Ma ngga sinaua sregep kanthi kebak upaya.
Bisaa jembar ake nyegerake pikiran kita....
Dikancani rasa kang titatu r tinata.
Chedak pangestu ne sing ma ha kuwasa.
Karya "Koh Hwat"-Yogyakarta
Dijala pada July 2008
Apakah pesan dibalik syair ini, yang pasti sangatlah berarti pada langkah - langkah kaki kita, dalam menapaki perjalanan ini. saya menunggu pendapat para sahabat Blogger disini.